PEGADAIAN Indonesia

mengatasi masalah tanpa masalah

Sunday, April 15, 2012

Emosi Subyektif



Pernahkah kamu menggendong anak balita ? beratkah ?

Cobalah menggendong...... entah anak, cucu, keponakan atau bahkan anak tetangga; jika tidak disertai rasa gembira sekaligus cinta anak, maka gendongan akan terasa berat. Tapi coba terbersit didalamnya suatu cinta sekaligus kewajiban, misalnya menggendong anak ke RS, meski sudah berjam jam tidak akan terasa capek.

Inilah yang saya maksud dengan istilah Emosi Subyektif. Dalam contoh menggendong, meski terdapat dua anak yang berat faktualnya sama, tetapi manakala si penggendong melakukannya dengan emosi yang berbeda, maka efeknya akan berbeda pula.

Ini pulalah yang coba saya bangkitkan saat mengajar bagaimana menaksir dengan benar. Ilmu menaksir sebagai sebuah ketrampilan, disamping pengetahuan tentunya, kadang mengakibatkan "stuck" bagi siswa diklat yang menganggap "toh nanti bisa sendiri saat praktek di lapangan" atau barangkali karena mereka beranggapan alah bisa karena biasa. Seperti pelajaran menggambar atau menyanyi pada anak SD, maka faktor emosi (senang menggambar/menyanyi) menjadi penentu keberhasilan seseorang mengikuti kedua pelajaran tersebut. Bagi mereka yang tidak dapat lalu ditutupi dengan selarik kalimat "karena tidak berbakat".

Excuse ingin saya hilangkan dari perbendaharaan kata para siswa. Secara konvensional, proses pembelajaran tidak sesederhana mengajarkan perbedaan pemakaian air nitrat pada emas merah 16 karat serta air raja untuk diteteskan pada batu yang telah digosok dengan emas merah 18 karat keatas. Untuk mahir membedakan karakteristik tiap perbedaan karat, mereka saya ajak marathon menggosok per karat per jam.

Program per karat per jam ini tidak terdapat dalam silabi maupun diktat diklat serta atribut powerpoint yang digariskan Direktorat SDM. Jika boleh disebut, ini merupakan out of the box dari KPI personal widyaiswara. Sekalipun KPI personal untuk widyaiswara mengalami kemandulan untuk diterapkan. Saya sebut out of the box mengapa ? Kami punya kewajiban moral mendidik secara instan "source" yang beragam kompetensinya dalam waktu yang sesingkat mungkin. Boleh dikata, manajemen mengabaikan input (dalam hal kepelbagaian peserta didik untuk kompetensi dan minat) dengan meminta output yang ngedab-edabi.

Duuh....kenapa ya, tulisan saya mesti menelisik ranah manajerial kelolaan training segala, meski terdapat perbedaan cukup signifikan tentang "Learning and Development" dibanding yang ada. Tetapi sejak awal tulisan ini kan hanya menyangkut motivasi yang menimbulkan emosi subyektif. Baiklah kembali ke tablet.

Saat menerapkan uji per karat per jam, ada pengharapan timbulnya kecintaan para peserta didik terhadap kebiasaan menggosok, saya ajarkan sekaligus saya motivasi mereka untuk membersihkan batu uji, menggosok dengan batu apung sendiri dan mengolesinya dengan kemiri seperlunya. Saya meminta mereka melakukannya sendiri meski mereka nantinya telah menjadi Pimpinan Cabang, karena dari hal sepele inilah penyebab munculnya risiko salah taksir. Disinilah taxit knowledge mengambil peran dominan.

Bahkan ditengah pelajaran teknis itu, pernah saya selipkan pembacaan email tentang seorang juragan yang berterima kasih terhadap PRT nya yang mengajari ketulusan bersyukur. (Terima kasih emailnya pak Made....)

Semua ini saya kreasikan untuk membuat mereka mencintai pekerjaan menaksir sebagai sebuah tantangan. Mimpi saya, jika mereka cinta pekerjaan maka otomatis akan terasa ringan. Benar...!, dalam proses belajar mengajar, hal yang paling menantang adalah bagaimana merancang apa yang akan tersaji dari sesi lepas sesi.

Sudahkah kalian menerapkan emosi positif dalam menggendong pekerjaan anda hari lepas hari ?

3 Comments:

Anonymous PT Pegadaian Pandangan said...

PT Pegadaian Pandangan

5:51 AM  
OpenID kurakurahitam said...

Sejujurnya saya juga berpikir "alah bisa karena biasa". Jujur Pak, saya ngerasa kemahiran kami dalam menilai karatase emas hanya persoalan jam terbang saja. Kelak, bila sudah sering menggosok maka akan lancar sendirinya.
Tapi ini diklat, dimana kami dituntut untuk lulus sebelum kami bisa menerapkan konsep "jam terbang", di sini ada kendala lain lagi. Kendalanya adalah rasa cemas. cemas takut tidak lulus yang akhirnya mengganggu konsentrasi saat ujian.
Saya sendiri merasa kerdil ketika bapak mengujiankan praktek menaksr emas yang padahal menurut saya, saya gak sebuta itu ketika menaksir emas. Semua itu mungkin karena saya merasa terbebankan. Terbebankan akan tidak lulusnya ujian yang membuat konsetrasi saya buyar. Hitungan saya kacau.

Intan

10:34 PM  
Blogger KISPRIJONO said...

Kak Intan y.b.

Tulisan emosi subyektif saya upload setelah saya mendidik lebih dari 30 kelas dan sebagian besar "perasaan" siswa hampir sama dengan yang dialami kakak. Hanya saja, beban kakak lebih berat, karena jika tidak lulus berarti tidak bisa diangkat sebagai pegawai tetap.

Beban harus lulus ini menyebabkan perjalanan menuju kompetensi kualitatif menjadi semakin tak terjangkau. Saya mencermati nilai pelatihan kakak yang super fluktuatif, pernah memperoleh nilai terbaik 100 tapi turun drastis menjadi "the worst five" beberapa hari kemudian. Saya meyakini, kakak sedang berjuang lebih ke - melawan diri sendiri - ketimbang berjuang untuk lulus. Saran saya, dahulukan memenangkan diri melawan gejolak kecemasan yang melanda, otomatis hasil prestatif akan menghampiri. Dari sisi kemampuan, kakak sudah bagus, hanya kurang pede saja.

Benar bahwa jutaan orang pernah melihat buah apel jatuh dari pohon, hanya kenapa yang mencermati hanya Newton saja ? inilah tantangan mengajar terberat bagi seorang pengajar yakni mengubah subyektif menjadi obyektif.

Selamat pagi kak Intan,

3:58 AM  

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home


Damai Sejahtera @ Terima Kasih

Free Website Counter